Layer height adalah salah satu parameter paling fundamental dalam pencetakan 3D, yang mewakili ketebalan setiap layer individual yang membentuk objek cetak. Ini secara langsung mempengaruhi kualitas, hasil akhir permukaan, waktu cetak, dan penggunaan material.
Layer height biasanya diukur dalam milimeter dan dibatasi oleh kemampuan hardware printer. Kebanyakan printer dapat mencapai layer height antara 0.1mm dan 0.4mm, dengan 0.2mm menjadi pengaturan default yang umum. Layer height minimum biasanya ditentukan oleh diameter nozzle, dengan nozzle yang lebih kecil memungkinkan layer yang lebih halus.
Layer height yang lebih rendah (0.1-0.15mm) menghasilkan permukaan yang lebih halus dan resolusi detail yang lebih baik, membuatnya ideal untuk cetakan di mana penampilan penting. Namun, mereka secara signifikan meningkatkan waktu cetak dan penggunaan material. Layer height yang lebih tinggi (0.3-0.4mm) mencetak lebih cepat dan menggunakan lebih sedikit material tetapi menghasilkan garis layer yang lebih terlihat dan detail yang lebih sedikit.
Layer height optimal tergantung pada beberapa faktor: penggunaan yang dimaksudkan dari cetakan, material yang digunakan, dan kemampuan printer. Untuk bagian fungsional di mana kekuatan lebih penting daripada penampilan, layer height yang lebih tinggi mungkin lebih disukai. Untuk model dekoratif atau detail, layer height yang lebih rendah biasanya lebih baik.
Beberapa slicer menawarkan adaptive layer height, yang secara otomatis menyesuaikan layer height berdasarkan geometri. Overhang yang curam mungkin menggunakan layer yang lebih tipis untuk kualitas yang lebih baik, sementara permukaan datar bisa menggunakan layer yang lebih tebal untuk kecepatan. Teknik ini dapat mengoptimalkan baik kualitas cetak maupun waktu.
Penting untuk dicatat bahwa layer height tidak boleh melebihi 80% dari diameter nozzle untuk pencetakan yang andal. Misalnya, nozzle 0.4mm tidak boleh menggunakan layer height lebih besar dari 0.32mm.

